Sunday, 2 July 2017

Bagaimana Memilih Hosting Terbaik untuk Blog WordPress?

Bagaimana Memilih Hosting Terbaik untuk Blog WordPress?

Baca Juga

Sebenarnya, hosting untuk WordPress ini ada berbagai macam tipe, mulai dari yang Gratis (Free), Shared Hosting, Virtual Private Servers (VPS), Dedicated Servers (DS) sampai Managed WordPress Hosting (MWH). Nah, dalam tulisan ini saya mencoba memberikan saran untuk memilih hosting terbaik termurah untuk WordPress. Sehingga, tujuan akhirnya adalah setelah selesai membaca ini, Anda bisa memiliki pandangan tentang seperti apa hosting yang cocok untuk blog WordPress Anda. Tulisan ini juga melengkapi tutorial memilih nama domain yang baik untuk blog. Jika berbicara domain, tentu -setidaknya- harus berbicara hosting ðŸ˜€



Persyaratan Minimal Hosting untuk WordPress

Tidak berat sebenarnya. Beberapa review yang saya baca di luar mengatakan bahwa script WordPress sangat ringan (ini untuk yang “manual” loh ya, bukan yang auto-autoan atau robot-robotan ðŸ˜† ). Setidaknya 2 poin berikut harus terpenuhi untuk spesifikasi hosting untuk blog bermesin WordPress:
  1. Minimal memiliki PHP dengan versi 5.2.4 atau yang lebih tinggi lagi.
  2. Minimal memiliki MySQL dengan versi 5.0 atau yang lebih tinggi lagi.
Saking populernya blog dengan engine WordPress, hampir semua penyedia layanan hosting menawarkan fitur 1-click install (artinya tinggal klak-klik doang, blog WordPress sudah jadi. Tidak perlu download ini itu, ekstrak ini-itu dan lain sebagainya) via Fantastico atau Softaculous.

Hal-hal yang Diperhatikan Ketika Memilih Penyedia Hosting

Kecepatanketahanan dan keamanan adalah faktor terpenting ketika memilih hosting provider (baik lokal ataupun yang di luar negeri). Namun, seringkali berbenturan dengan “faktor” lain yang tidak kalah penting, yaitu: DUIT ðŸ˜€ Seperti pepatah -entah pepatah dari mana-; “ada rupa, ada harga” juga berlaku di dunia sewa-menyewa server. Meski tidak selalu demikian, maka dari itu perlu kejelian. Jangan sampai hosting mahal kualitas malah hancur-hancuran atau hosting murah dan kualitas oke punya (ini mah yang dicari! ðŸ˜› ).


Kembali lagi, mahal dan murah itu relatif. Tergantung keperluan masing-masing. Ada orang yang mengeluarkan biaya jutaan perbulan untuk sewa hosting saja namun tidak merasa kemahalan karena dari blog-blognya bisa menghasilkan puluhan atau ratusan juta. Bagaimanapun, yang terpenting adalah faktor kebutuhan blog kita. Tidak perlu memaksakan membeli yang diluar budget kita karena umumnya setiap hosting memiliki fitur upgrade. Jadi, ketika sudah mulai ramai traffic berdatangan kemudian server down atau hosting terkena suspend, berarti minta spek yang lebih tinggi. Upgrade saja.
Kuncinya, lakukan evaluasi terlebih dahulu akan kebutuhan blog kita sebelum membeli/menyewa hosting.
Seperti yang sudah disebutkan di atas, ada beberapa tipe hosting sebagai acuan untuk memilih. Setelah melakukan evaluasi terhadap keperluan blog, silakan lihat tipe-tipe berikut ini dan tentukan hosting mana yang kira-kira sesuai dan menjadi solusi terbaik untuk blog Anda.

Hosting WordPress Gratis (Free)

Ada banyak hosting yang menyediakan fasilitas gratis untuk blog bermesin WordPress. Akan tetapi, hampir kesemuanya memiliki fitur yang serba terbatas. Ya iya lah, namanya juga gratisan

Biasanya, hosting jenis ini ditawarkan di grup-grup tertentu atau forum-forum online, yang kebanyakannya hosting tipe ini dikelola oleh perorangan. Karena dikelola oleh perorangan, umumnya mereka “memberikan” space yang mereka miliki dengan “imbalan” berupa banner iklan dan sejenisnya untuk “membiayai” server mereka. Ada juga yang benar-benar bebas banner iklan.
Kelemahan terbesar hosting gratis ini adalah kita tidak pernah tahu sampai kapan hosting ini berjalan. Pihak penyedia bisa saja “meninggalkan” kita -dan blog kita- tergantung tanpa arah. Emang enak digantung😀
Jika Anda ingin serius di dunia ngeblog, hindari hosting gratis ini. Seriously! Saya pernah di tahun 2008 menggunakan hosting gratis untuk satu-satunya blog kala itu. Karena berpikiran “kalau ada yang gratis, ngapin bayar?”, entah kenapa tiba-tiba hosting saya disuspend. Menanyakan backup, jelas tidak ada. Namanya juga gratis. Saya juga waktu itu masih culun, sehingga tidak rutin membackup. Poor me!
Anda jangan mengulang nasib seperti saya. Cukup pengalaman pahit saya menjadi pelajaran kita bersama ðŸ˜‰

Shared Hosting

Sejauh ini, tipe hosting inilah yang paling populer dan cocok digunakan untuk beginner (starting bloggers atau small business)  Hosting jenis ini merupakan awal mula saya berani menyewa sendiri. Shared Hosting adalah server dengan kapasitas besar dan menampung banyak situs atau blog lain selain milik kita. Jadi, ketika kita menyewa hosting, biasanya kita akan mendapatkan name server (NS) yang sudah memiliki IP Address tertentu. Dalam 1 server ini, tidak hanya blog milik kita saja, tapi juga berbagi dengan blog milik orang lain yang kebetulan juga membeli shared hosting dari provider yang sama.

Yang menarik dari shared hosting ini adalah sumberdaya yang tidak terbatas (“Unlimited” Resources). Sejatinya, tidak ada yang “unlimited” di dunia hosting ini. Ketika dikatakan “unlimited”, sebenarnya masih ada pembatasan yang tidak boleh dilanggar (selalu baca ketentuan layanan/terms of service setiap provider). Jika blog kita nanti memberikan beban yang tinggi terhadap server (load server), biasanya pihak provider akan meminta kita untuk mengupgrade akun hosting kita. Jika tidak, beban yang tinggi dari blog kita tadi akan berimbas ke blog atau pelanggan lain yang berada dalam satu server. Inilah mengapa disebut “shared” (berbagi).
Akhirnya kembali ke kata-kata bijaksana seperti: “ketika bisnismu semakin menanjak, begitu pula biaya yang dikeluarkan”

Virtual Private Servers (VPS)

Sesuai namanya, VPS merujuk kepada mesin virtual dengan metode partisi dari sebuah server komputer A menjadi beberapa server (AA, AB, AC, AD dst). Meski begitu, kita sebenarnya masih berbagi karena pada dasarnya VPS berasal dari 1 server A yang dibagi-bagi. Hanya saja, masing-masing VPS disetting sesuai dengan konfigurasi masing-masing penggunanya (kita yang sewa) sehingga kita seperti mengontrol sebuah dedicated servers.


VPS juga memungkinkan penggunanya untuk menjalankan software servers tertentu. VPS saya ada yang menggunakan CentOS dan Ubuntu.
VPS ini cocok bagi para pengembang (developers), Intermediate (blogger “menengah”), blog bertraffic tinggi hingga desainer yang menggunakan jaringan internet.
Hanya saja, VPS ini memerlukan sedikit (jika tidak ingin dibilang banyak) pengetahuan teknis tentang seluk beluk server dan sistem operasinya. Bagaimana jika tidak memiliki ilmu mengelola VPS namun hasil evaluasi blog menunjukkan kita harus menyewa VPS? Pastikan Anda membeli yang namanya Managed VPS. Versi “managed” ini dikelola oleh pihak provider dan kita tinggal duduk manis ðŸ˜€

Dedicated Servers (DS)

Dedicated Servers merupakan satu server komputer dalam bentuk fisik yang kita sewa dari hosting provider. DS memberikan kita akses full control termasuk hingga ke pemilihan hardware dan lain sebagainya. Anda TIDAK PERLU dedicated servers jika baru saja terjun ke ranah blog. Saya berpindah ke DS karena jumlah kunjungan yang meningkat signifikan dan stabil (setelah menimbang-nimbang biayanya).


Sama halnya dengan VPS, jika tidak/belum mengerti DS namun traffic sudah membludak, ada baiknya Anda memilih Managed Dedicated Servers yang akan memonitor dan mengatur DS kita.
WordPress dengan DS -sekali lagi- khusus bagi blog dengan traffic tinggi! (atau yang memerlukan resource banyak seperti pemain auto-autoan ðŸ˜› )

Managed WordPress Hosting (MWH)

Tipe jenis ini mulai ramai dibuat penyedia hosting karena banyaknya pengguna WordPress. Beberapa hosting provider menawarkan tipe ini. Umumnya, hosting MWH ini hanya memperbolehkan membuat situs blog bermesin WordPress saja; tidak boleh ada yang lain.
Keuntungan MWH jelas, kita yang ingin ngeblog dengan WordPress tidak perlu khawatir akan apapun. Pihak penyedia sudah mengoptimasi agar performa blog kita cepat, aman dan tersedia backup secara berkala. Mereka juga terkadang memberi tahu kita plugin atau setting seperti apa yang tidak baik untuk server.


Kekurangannya, MWH ini umumnya sangat mahal. Untuk visitor di atas 20ribu per bulan (iya, per bulan!) biayanya bisa mencapai $30/bulan. Visitor 20ribu per bulan itu “sedikit”, sob. Bandingan dengan VPS yang $15/bulan bisa menampung 20ribu-50ribu visitor per hari!.
Mereka yang baru memulai untuk ngeblog tidak dianjurkan untuk memilih tipe Managed WordPress Hosting ini. MWH cocok bagi blogger yang telah mendapatkan penghasilan yang stabil namun tidak memiliki waktu untuk sisi teknis mengelola server.
Sekarang, setelah membaca keterangan singkat di atas, saatnya Anda membuat keputusan


sumber artikel 

Related Posts

Bagaimana Memilih Hosting Terbaik untuk Blog WordPress?
4/ 5
Oleh